PIPA-pipa berukuran besar berjajar rapi di bawah greenhouse. Tanaman selada dibariskan rapi, mengisi lubang-lubang hasil bor. Selada-selada dalam pipa tersebut ditanam menggunakan cara hidroponik.

Sulardi adalah sosok yang mengembangkan kebun selada tersebut. Sulardi merawat kebun ini bersama dengan Septian, Wahyu, dan Wisnu selaku inisiator awal. Kebun selada seluas 299 m2 ini bertempat di Dusun Tagung, Desa Berjo.

Cara penanaman selada yang tidak menggunakan medium tanah, menjadi keunggulan dari kebun ini. Dengan cara penanaman ini efektivitas lahan dan nutrisi dapat dicapai.

Inilah pipa pengairan ladang hidroponik di Desa Berjo. (Foto: Nurul Firdiani Fauzan)

Selama 24 jam, air yang digunakan sebagai medium tanam selalu dialirkan melalui tiga jalur pipa dengan kecepatan tertentu. Dengan tiga jalur pipa ini, nutrisi dan oksigen yang diperlukan tanaman dapat terpenuhi secara optimal.

(Baca juga: Hidroponik Ala Desa Berjo)

Harga jual yang tinggi serta kemampuannya hidup di wilayah dingin menjadi alasan selada dipilih menjadi komoditas tanam. Dengan jarangnya produsen selada dan predikat Berjo sebagai desa wisata, kebun selada ini nantinya akan dimanfaatkan sebagai wisata edukasi desa.

“Wisata edukasi ini akan memberikan fasilitas mengenai cara menanamnya. Wisata ini nantinya juga akan menghasilkan uang untuk masyarakat. Ke depannya, wisata edukasi ini akan dikembangkan menjadi wisata multi produk,” imbuh Sulardi.

Konsep wisata yang akan diterapkan pada lahan hidroponik ini adalah Happy Farming Hydroponic. Konsep ini mencakup kegiatan daur ulang sampah anorganik dan pengenalan teknologi hidroponik. Pengembangan ini bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat setiap harinya. [Nurul F. Fauzan]

Ami Rosemarwati

View all posts

1 comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



Peta Lokasi Wisata Desa Berjo